Rabu, 18 Maret 2009

Filsafat Dalam Perspektif Sejarah

A.LATAR BELAKANG TIMBULNYA FILSAFAT

Filsafat bukan monopoli segelintir orang. Bukan pula monopoli bangsa-bangsa tertentu. Bukan juga monopoli zaman tertentu. Semua manusia, segala suku bangsa, yang hidup di zaman apa saja dapat berfilsafat. Mengapa? Sebab filsafat bertolak dari kejadian yang dialami setiap saat. Ketika orang bertanya, mulalah ia berfilsafat.
Filsafat muncul bersamaan dengan kemunculan manusia dalam sejarah. Hewan tak dapat berfilsafat, karena hewan tak dapat bertanya. Manusia dapat bertanya karena ia mempunyai akal budi yang mampu mengambil jarak dengan benda-benda dan segala sesuatu di sekitarnya.
Ada hal-hal yang lumrah, dialami oleh semua orang. Ada pula kejadian kosmis yang selalu berulang setiap hari. Semuanya ini mendorong manusia untuk bertanya. Manusia bertanya tentang semua peristiwa dan berusaha mendapat jawabannya. Menurut C.A. can Peursen, bertanya merupakan tali pengikat antara manusia dan peristiwa.
Kegiatan berfilsafat manusia berawal dari rasa heran, kesangsian dan kesadaran akan keterbatasan.

1. Rasa Heran: Berfilsafat berarti bertanya-tanya disertai rasa heran dan kagum (dalam bahasa Yunani: thaumasia). Plato misalnya, mengatakan bahwa filsafat berawal dengan dorongan untuk menyelidiki bintang-bintang, matahari dan langit yang kita pandang. Dari penyelidikan itulah muncul filsafat.
Dalam sebuah bagian terkenal dialog Theatetos, Plato menampilkan Socrates yang menghubungkan filsafat dengan rasa heran. Seperti dalam Simposium, Plato menempatkan filsafat di antara dewa dan manusia. Utusan para dewa dikaitkan dengan rasa heran. Filsuf yang meulai filsafatnya dengan rasa heran antara lain adalah Aristoteles, Immanuel Kant, Thales, Anaximander, Anaximenes dan Parmenides.

2. Kesangsian: filsafat juga diawali dengan rasa sangsi. Manusia menyangsikan apa yang dilihat inderanya. Ia bertanya jangan-jangan apa yang dilihat itu suatu tipuan. Dengan kata lain, manusia menginginkan kepastian.
Berdasarkan sikap skeptic inilah manusia didorong untuk menemukan jawaban yang pasti. Di sini, kesangsian merupakan metode untuk mencapai kepastian dan kebenaran. Rasa tak pasti, bimbang dan skeptic yang dimaksud di sini bukan merupakan gangguan psikologis, tapi justru merupakan proses mental dalam mencapai kebenaran. Filsuf yang mengalami filsafat dengan sikap ragu-ragu adalah Agustinus (354-430) dan Rene Descartes (1597-1650).

3. Kesadaran akan keterbatasan: manusia mulai berfilsafat ketika ia menyadari betapa kecil, lemah dan tak berarti dirinya di tengah alam semesta yang mahaluas, kuat dan dahsyat. Pengalamannya juga menunjukkan betapa manusia itu tak berdaya. Ini dialami, misalnya ketika berhadapan dengn tebing terjal atau gunung api yang sedang memuntahkan lava. Atau tatkala menyaksikan gelombang pasang yang megancam kehidupan nelayan. Atau longsor yang memakan korban jiwa.

B.FILSAFAT ZAMAN KLASIK
1. Masa PraSokrates
Filsafat di masa Pra-Sokrates bukan hanya merupakan tahap pra-filsafat, melainkan tahap pertama dalam filsafat Yunani. Filsafat ini merupakan pesiapan bagi periode sesudahnya. Berikut ini adalah filsuf-filsuf pada masa Pra-Sokrates.
a. Thales (625 – 545 SM)
Dalam sejarah filsafat, Thales dijuluki sebagai filsuf Yunani pertama. Dia adalah satu dari “Tujuh Orang Bijak” di zamannya. Thales adalah filsuf dan ilmuwan praktis.
Tidak banyak diketahui tentang riwayat hidup Thales. Keterangantentang Thales justru banyak didapat dari Aristoteles. Sebagai filsuf, Thales dan Miletus berusaha menjawab pertanyaan: apa asal-usul segala Sesuatu? Sebagai ilmuwan, dia juga mewariskan ajaran tentang sejumlah gejala alam.
Tentang Thales diceritakan oleh Diagenes Laertius bahwa saking asyiknya mengamati bintang-bintang di langit, dia terperosok ke lobang. Seorang wanita pembantu rumah tangga yang melihat kejadian itu menertawakan Thales.
Menurut Thales, bahan dasar dari segala sesuatu adalah air. Itu merupakan kesimpulan setelah dia mengamati dominasi peram air di alam dan kehidupan manusia. Seperti dikatakan aristoteles, Thales dari hari ke hari mengamati bahwa kabut memberi kehidupan bagi segala sesuatu. Bahkan panas itu sendiri berasal dari kelembban.
Thales juga mengajarkan bahwa segala benda penuh dengan dewa-dewi. Menurutnya, magnet mempunyai jiwa karena magnet dapat menggerakkan besi. Yang penting dari ajaran Thales adalah bahwa ia melihat benda-benda itu banyak bentuk yang memiliki unsur dasar dan primer yang sama. Elemen primer ini adalah air. Jadi, Thaleslah orang pertama yang mengerti apa itu kesatuan dalam perbedaan (units dalam pluralitas).
b. Anaximander(611 – 545 SM)
Anaximander juga seorang ilmuwan. Konon, menurut Theophrastus dia membuat sebuah peta mungkin digunakan oleh para pelaut Milesia ke Laut Hitam. Menurut Theophrastus, Anaximander adalah teman sejawat Thales dan nampaknya lebih muda. Di samping kegiatan ilmiahnya, dia juga mencari jawaban atas pertanyaan sama yang menggugah Thales. Tapi menurut dia prinsip pertama dan utama itu tidak mungkin air.
Kalau perubahan, kelahiran dan kematian, pertumbuhan dan kehancuran disebabkan oleh konflik, maka tak dapat dijelaskan mengapa ada benda-benda lain yang tak dapat melebur menjadi air. Maka menurutnya, prinsip pertama dari segala sesuatu adalah to apeiron (yang berarti substansi yang tak terbatas).
Anaximander mengajarkan bahwa bumi bukan berbentuk piringan, tapi silinder pendek. Kehidupan berasal dari laut, dan melalui adaptasi dengan lingkungan bentuk-bentuk hewan yang sekarang berevolusi.
Tentang asal-usuk manusia, Anaximander mengatakan bahwa pada mulanya manusia dilahirkan dari hewan-hewan spesies lain. Hewan-hewan lain katanya cepat menemukan makanan bagi diri mereka sendiri, tapi manusia membutuhkan waktu panjang untuk menjadi dewasa. Tapi dia tak dapat menjelaskan bagaimana manusia bisa hidup dalam tahap transisi.
Jadi, doktrin Anaximander merupakan suatu langkah maju disbanding Thales. Dia tidak menunjuk unsur tertentu, tapi konsep to apeiron, yakni substansi yang tak terbatas.
c. Anaximenes (588 – 524 SM)
Dialah filsuf ketiga dari Miletus, dan lebih muda dari Anaximander. Menurut Anaximenes, prinsip segala sesuatu adalah udara. Kesimpulan ini mungkin sekali didasarkan pada fakta bahwa manusia hanya dapat hidup kalau bernafas. Jadi, udara adalah prinsip uatma kehidupan. “Sebagaimana jiwa kita, yakni udara, mempersatukan kita, demikian juga nafas dan udara merangkul seluruh dunia,” kata Anaximenes.
Yang perlu dicatat dari teorinya dalah usahanya untuk menemukan semua kualitas pada kuantitas. Anaximenes juga mengatakan bahwa kalau kita bernafas dengan mulut terbuka, udara panas. Sebaliknya, jika kita bernafas dengan mulut tertutup, udara dingin. Menurut Anaximenes, bumi ini berbebtuk datar, melayang di udara seperti selembar daun. Pelangi berasal dari sinar matahari yang jatuh pada awan tebal sehingga tak dapat menembusnya.
d. Pytagoras (580 – 500 SM)
Lamblicus menyebut Phytagoras sebagai “Pemimpin dan Bapak Filsafat Ilahi”. Pada masa Yunani, sekolah atau sekte bukan barang baru. Tapi sekte pythagoreanisme memiliki ciri khas yakni warna esketis dan religiusnya. Pythagoreanisme merupakan gerakan kebangjitan agama menjelang keruntuhan peradaban Ionia. Sebagai kelompok eksklusif, pythagoreanisme memberlakukan aturan-aturan bagi para anggotanya.
Pythagoras mengajarkan bahwa jiwa itu kekal, dan dapat berpindah-pindah. Sesudah kematian, jiwa berpindah ke hewan dan begitu seterusnya. Pemurnian jiwa dapat dilakukan dengan mempraktikkan kesunyian, mendengarkan musik, dan mempelajari matematika. Mematuhi larangan-plarangan juga membantu penyucian jiwa.
Menurut Pythagoras prinsip dari segala-galanya adalah matematika. Semua benda dapat dihitung dengan angka, dan kita dapat megekspresikan banyak hal dengan angka-angka. Mereka terpesona oleh kenyataan bahwa interval-interval musik antara dua not dapat dinyatakan secara numerik. Seperti halnya harmoni music tergantung pada angka, maka harmoni jagad raya juga bergantung pada angka. Bahkan menurut Pythagoras benda-benda adalah angka-angka (things are members). Menurut Pythagoreanisme pusat jagad raya adalah api (Hestia). Pythagoreanisme berpendapat bahwa seluruh langit merupakan suatu tangga nada musik serta bilangan. Pandangan ini dimodifikasi oleh para pemikir Yunanai yang menyamakan api itu sebagai matahari sehingga timbul heliosentris.
e. Xenophanes (570 – 480 SM)
Xenophanes bukannya filsuf, tapi seorang pemikir yang kritis. Dia lahir di Kolophon, Asia kecil. Ketika kota kelahirannya direbut oleh Persia tahun 545, Xenophanes melarikan diri dan untuik beberapa waktu lamanya tinggal di Messina dan Katana, Pulau Sisilia.
Xenophanes menolak anthropomorfisme allah-allah. Dengan kata lain, ia berpendapat allah bersifat kekal. Dia menolak anggapan bahwa allah dilahirkan. Maka dapat disimpulkan bahwa menurut dia allah tidak mempunyai permulaan.
f. Heracleitos (540 – 475 SM)
Heracleitos adalah bangsawan di Efesus. Ia seorang berperangai melankolik, suka menyendiri, soliter. Ia memandang rendah orang-orang kebanyakan. Bahkan orang-orang ternama masa sebelumnya.
Heracleitos dikenal karena ajarannya panta rei yang artinya segala sesuatu mengalir (all things are in a state of flax). Aristoteles berpendapat bahwa doktrin utama Heracleitos adalah bahwa “segala Sesautu ada dalam gerakan, tak ada suatu yang tetap". Dengan kata lain ia mengajarkan the unreality of reality.
Heracleitos mengajarkan konsep unity in diversity, differences in unity (kesatuan dalam keragaman, perbedaan dalam kesatuan). Dengan kata lain, ia mengajarkan tentang kesatuan dari yang satu (unity of the One). Menurut Heracleitos hakikat segala sesuatu adalah api.
g. Parmenides dan Melissus
Parmenides orang pertama yang berfilsafat tentang “yang ada”. Jadi, dialah yang pertama-tama memperkenalkan metafisika. Inti ajarannya adalah: Being, the One, and that Becoming, change, is illusion. Menurut Parmenides, jika sesuatu itu ada, maka ada dua kemungkinan asalnya, yakni ia bisa berasal dari ada (being) atau bisa juga berasal dari tidak ada (not being). jika berasal dari ada, maka dia sudah ada. Jika berasal dari tidak ada, maka ia nothing.
Tentang hakikat dunia, Parmenides mengatakan: it is, it, yang merupakan relitas, being, ada dan tidak bisa tidak ada. Ia ada, dan tidak mungkinj bahwa ia tidak ada. Ada dapat dibicarakan dan dapat jadi objek pikiranku. Apa yang dapat kupikirkan dan bicarakan dapat ada, sebab ia merupakan hal sama yang dapat dipikirkan dan yang dapat ada. Jika it dapat ada, maka ia ada. Karena seandainya ia dapat ada dan saat ini belum ada, maka ia itu tidak apa-apa. Tidak apa-apa tidak dapat menjadi objek pembicaraan atau pikiran, sebab berbicara dan memikirkan suatu yang tidak ada berarti tidak berpikir apa-apa.
Ajaran Parmenides kemudian dikembangkan oleh Melissus, muridnya. Menurut Melissus, jika ada itu terbatas, amak di luar ada pati tidak ada apa-apa lagi, karena harus dibatasi oleh tidak apa-apa. Tapi jika ada itu dibatasi oleh tidak apa-apa, ia haruslah suatu yang tak terbatas.
h. Zeno
Zeno adalah murid Parmenides. Zeno menolak ajaran Pythagoras tentang pluralisme, tentang ruang dan gerak. Konsekuensi doktrin yang diajarkan Pythagoras adalah dilemma menyangkut segala sesuatu di jagad raya: atau semuanya itu besar sekali atau kecil sekali. Menurut Zeno, kesimpulan seperti itu disebabkan karena pengandaian yang absurd, yakni bahwa jagad raya dan segala sesuatu di dalamnya terdiri dari unit-unit.
Hal paling menarik dan terkenal adalah argumentasi Zeno tentang gerak (motion). Zeno pada dasarnya mau membuktikan bahwa gerak, yang disangkal Parmenides, juga merupakan sutu yang mustahil dilihat dari teori Pythagoras.
i. Empedocles
Seperti Parmenides, Empedocles mengemukakan filosofinya melalui puisi-puisinya. Pemikiran filosofisnya pada dasarnya hanya menggabungkan pemikiran para pendahulunya. Menurut Empedocles, unsur dasar dari segala-galanya adalah empat unsur anasir (rizomata), yakni: tanah, udara, api dan air. Tanah tak dapat menjadi air, dan sebaliknya air tak dapat jadi tanah. Keempat macam benda itu tak dapat saling dipertukarkan. Campuran keempat anasir itu menghasilkan benda-benda konkrit di sekitar kita. Jadi, benda-benda dibentuk dari percampuran unsur-unsur itu, dan lenyap kalau terjadi pemisahan unsur-unsur tersebut. Tapi unsur-unsur itu sendiri tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya.
Penggabungan dan pemisahan unsure itu terjadi karena kekuatan cinta, dan kebencian, atau harmoni dan kekacauan. Tapi kekuatan-kekuatan itu bersifat fisik dan material. Cinta atau harmoni menggabungkan unsur itu, sedangkan kebencian atau kekacauan memisahkan unsur itu.
Empedocles mengajarkan tentang perpindahan jiwa. Tentang pengalaman indera, Empedocles menjelaskan bahwa itu terjadi karena pertemuan keempat unsur tadi. Jadi, Empedocles berusaha mendamaikan ajaran Parmenides dan fakta perubahan, dengan mengajarkan tentang keempat unsur itu.
j. Anaxagoras
Sumbangan paling penting Anaxagoras bagi filsafat adalah teorinya tentang rasio. Ia mengatakan bahwa gerakan disebabkan oleh rasio. Sejak Anaxagoras-lah akal budi dianggap sebagai prinsip yang menggerakkan segalanya. Anaxagoras berpendapat bahwa segalanya terdapat dalam segala sesuatu (in everything there is a portion of everything). Suatu benda mengandung semua
k. Leucippus (500 – 420 SM)
Leucippus tidak mengajarkan tentang kekuatan yang mengggerakkan seperti cinta dan benci pada Empedocles, atau nous pada Anaxagoras. Leucippus hanya mengajarkan bahwa pada awal mula ada atom-atom yang bergerak dalam ruangan kosong. Dari permulaan seperti itulah muncul dunia yang kita alami. Dan menurut Leucippus, dunia ini bagaikan tambourin yang melayang di udara.
l. Demokritos
Menurut Demokritos, tindakan bertujuan untuk memperoleh kebahagiaan. Kesenangan dan rasa sakait menentukan kebahagian. Kebahagiaan tidak ditemukan pada emas, tapi pada jiwa. Manusia harus dibimbing oleh prinsip simetri dan harmoni. Dengan demikian manusia memperoleh ketenangan badan dan ketenangan jiwa.
Tentang kebudayaan, Demokritos mengajarkan bahwa peradaban muncul dari kebutuhan dan usaha untuk memperoleh suatu yang menguntungkan dan berguna. Demokritos juga menegaskan tentang pentingnya Negara dan kehidupan politik. Manusia harus lebih mementingkan kepentingan Negara. Dalam etika Demokritos menegaskan tentang kebebasan.

2. Masa Sokrates
Perhatian filsafat masa Pra-Sokrates adalah alam atau kosmos. Pada masa sokrates ini, perhatian bergeser kepada manusia itu sendiri.faktor-faktor penyebabnya antara lain: (1) timbulnya sikap skeptic terhadap filsafat Yunani yang tidak dapat menjelaskan pertanyaan tentang asal-usul alam semesta. (2) semakin besar minat terhadap fenomen kebudayaan dan peradaban. Ini disebabkan pergaulan yang makin gencar antara orang Yunani dan peradaban asing. Menhagdapi kenyataan ini para pemikir Yunani mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah beragam kebudayaan nasional dan local, norma agama dan etis, hanyalah konvensi atau tidak?
a. Kaum Sofis
Ada perbedaan antara Filsafat Pra-Socrates dan filsafat sesudahnya. Perbedaan itu terletak pada:
- Pusat perhatian filsafat masa Sokrates adalah manusia, peradaban dan kebiasaan manusia. Sofisme menaruh perhatian pada mikrokosmos bukan makrokosmos.
- Sofisme dan filsafat Yunanai sebelumnya jiga berbeda dalam hal metode. Filsafat Pra-Sokrates memiliki metode deduktif, sedangkan kaum sofis menggunakan metode empirico-induktif.
- Pada masa Pra-Sokrates filsuf menetapkan prinsip umum, kemudian menetapkan fenomen-fenomen khusus berdasrakan prinsip terssebut. Sebaliknya kaum sofis adalah ensiklopedis karena mereka menghimpun banyak observasi dan fakta, lalu menarik kesimpulan, baik teoritis maupuin praktis.
- Perbedaan juga terletak pada tujuan. Filsafat Pra-Sokrates ingin mencari kebenaran objeltif tentang dunia. Kaum sofis mencari kebenaran praktis, bukan spekulatif. Tujuan utama filsafat Pra-Sokrates adalah menemukan kebenaran, sedangkan kaum sofis justru pada mengajar.
Di bawah ini kta akan berkenalan dengan beberapa filsuf sofis:
1) Protagoras (481 – 411)
Kata-kata terkenal Proagoras adalah: manusia adalah ukuran segala-galanya, dari semua yang merupakan dirinya sendiri, dari semua yang bukan merupakan diri sendiri (man is the measure of all things, of those that are that they are, of those that are not that they are not).
Menurut Protagoras, keputusan etis dan nilai etis bersifat relatif. Protagoras mengajrkan pandangan yang relativistik. Dia mempertanyakan tradisi etika dan agama. Protagoras adalah pionir dalam studi dan ilmu tatabahasa. Konon, dia sudah berhasil mengklasifikasi macam-macam kalimat yang berbeda dan membedakan gender kata-kata benda.
2) Prodicus
Menurut teori agamanya, pada mulanya manusia menyembah matahari, bulan, sungai, danau, buah-buahan dan sebagainya sebagai dewa. Pendeknya, semua yang berguna bagi kehidupan paktis, disembah. Lalu pada tahap berikutnya, para penemu berbagai kesenian disembah sebagai dewa.
3) Hippias
Hippias berasal dari Elis. Ia seorang yang jago matematika, astronomi, ahli tatabahasa, ahli pidato, ahli sejarah, sastra dan mitologi.
4) Georgias
Mula-mula Georgias adalah murid Empedocles. Georgias meyibukkan diri dengan ilmu alam. Ia menulis buku tentang optik. Karena pengaruh Zeno, Georgias kemudian terjerembab dalam skeptisisme. Inti ajaran Georgias adalah:
- Tak ada sesuatupun.
- Kalau tak ada apa-apa, maka manusia tak ada apa-apa.
- Kalau ada pengetahuan, pengetahuan itu tak dapat diajarkan. Karena tiap tanda berbeda dari benda yang ditandai itu.
b. Socrates
Ajaran-ajaran Sokrates antara lain definisi yang bersifat tetap, argumen-argumen induktif. Argument induktif ini bukan dikembangkan melalui logika, melainkan dengan wawancara atau dialektik. Tujuan dialektik adalah memperoleh kebenaran dan definisi universal. Menurut Sokrates, jiwa hanya dapat dipelihara sebagimana semestinya dengan pengetahuan, yakni kebijaksanaan yang benar.
Sokrates menaruh perhatian besar pada etika. Dia menganggap missi yang diberikan kepadanya adalah menyadarkan orang-orang agar memelihara harta yang paling agung yakni jiwa lewat upaya memperoleh kebijaksanaan dan kebenaran. Menurut Socrates, tindakan itu benar jika betul-betul bermanfaat bagi manusia.
c. Plato
Ajaran terpenting Plato adalah “dua dunia”, yaitu dunia idea dan dunia materi. Menurut Plato, jiwa adalah suatu adikodrati, berasal dari dunia idea, tidakl dapat mati, kekal. Jiwa terdiri dari tiga bagian (fungsi) yakni rasional (kebijaksanaan), kehendak (keberanian) dan bagian keinginan atau nafsu (pengendalian diri). Jiwa dipenjarakan dalam tubuh.
Ajaran tentang Negara merupaka puncak filsafat Plato. Menurut Plato, tujuan hidup manusia adalah eudaemonia (hidup yang baik). Agar hidup baik, orang harus mendapat pendidikan.
d. Aristoteles
Logika: tradisional yang kita kenal sekarang diajarkan oleh Aristoteles. Aristoteles meyebut jiwa sebagai psyche. Menurut Aristoteles, bukan hanya manuisa yang punya jiwa, tapi semua yang hidup punya jiwa. Menurut Aristoteles, jiwa dan tubuh adalah dua aspek yang menyangkut satu substansi. Badan adalah materi dan jiwa adalah bentuknya. Menurut Aristosteles, jiwa akan binasa pada saat kematian badan. Jiwa manusia, seperti jiwa tumbuhan dan hewan tidak bersifat kekal

C. FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN
Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru wahyu menjadi otoritas untuk memperoleh kebenaran.
Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) sangat kecil. Karena gereja telah membelokkan kreativitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan “The Scholastic”, sehingga periode ini disebut masa Skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang diterima dari gereja secara rasional.
Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Agustinus. Menurutnya dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Allah dari yang tidak ada (creatio ex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan.
Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus, yaitu credo ut intelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan filsafata rasional yang lebih mendahulukan pengertian daripada iman.

D. FILSAFAT ZAMAN MODERN
Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud melahirkan kembali kebudayaan klasik Romawi-Yunani. Barangkat dari keinginan lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat untuk menggali kembali kekayaan filsafat Yunani klasik. Problem utama pada masa Renaissance adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik secara indivisu maupun social.
Di antara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (1561 – 1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipindahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tapi ia menganggap bahwa sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui melalui wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai “Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme.”. argumentasi yang dimajukan bertujuan unutk melepaskan diri dari kungkungan gereja. Hal ini Nampak dalam semboyannya “cogito ergo sum” (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai eksistensi setiap individu. Dalam hal ini filsafat kembali mencapai kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebanaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Prancis dan akhirnya ke Jerma. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. pada masa aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat mengagungkan kekuatan akal adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah suprtemasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains.
Tokoh-tokoh terpenting filsafat masa pencerahan antara lain George Barkeley dan David Hume (Inggris), Voltaire dan Jean Jacques Rosseau (Prancis), dan Immanuel Kant (Jerman). Filsuf paling penting dalam era ini adalah Kant. Kant berusaha mendamaikan pandangan rasionalisme dan empirisme. Menurut Kant, peran rasio dan pengalaman sama pentingnya dalam proses mengetahui. Pengalaman indera dinamakannya unsure apesteriori, sedangkan akal budi dinamakannya unsure apriori. Kant berpendapat bahwa pengetahuan selalu merupakan hasil sintese unsure akal budi dan pengalaman. Akal budi sendiri tidak dapat dipercaya begitu saja, demikian pula pengalaman indera.
Pada abad XIX muncul filasafat dengan aliran-aliran besar seperti Idealisme Jerman, positivism dan materialisme. Idealism adalah aliran yang berpandangan bahwa tidak ada realitas objektif dari dirinya sendiri. Menurut Idealisme rasio mengendalikan realitas sesungguhnya. Segala sesuatu merupakan tampakan-tampakan atau momen yang berkembang sendiri. Tokoh-tokoh yang penting adalah tiga filsuf Jerman yakni J.G.Fichte (1762-1814), F.W.J.Schelling (1775-1854) dan G.W.F.Hegel (1770-1831). Filsuf paling penting di antara ketiganya adalah Hegel.
Aliran positivism berpandangan bahwa manusia tidak pernah mengetahui lebih dari fakta-fakta atau apa yang Nampak. Manusia tidak pernah mengetahui sesuatu di balik fakta-fakta. Oleh sebab itu, menurut positivism, tugas ilmu pengetahuan dan filsafat adalah menyelidiki fakta-fakta, bukan menyelidiki sebab-sebab terdalam realitas. Tokoh-tokoh penting positivism antara lain Auguste Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan Herbert Spencer (1820-1903).
Aliran materialism berpandangan bahwa seluruh relitas terdiri dari materi. Artinya, setiap benda atau peristiwa dapat dijabarkan kedalam materi. Tokoh-tokohnya antara lain Ludwig Feuerbach, Karl Marx dan Friedrich Engels. Pikiran-pikiran Karl Marx sering muncul dalam nama materialism dialektis. Materialism dialektis beranggapan bahwa perubahan kuantitas dapat mengakibatkan perubahan kualitas.
Aliran dualisme adalah ajaran atau aliran yang memandang alam ini terdiri dari dua macam hakekat materi dan hakekat rohani. kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazai dan abadi. perhubungan antara keduanya itu menciptakna kehidupan dalam alam. Contoh yang paling jelas tentang adanya kerjasama antara kedua hakekat itu terdapat dalam diri manusia. tokoh-tokohnya antara lain, Plato, Aristoteles, Descartes, dan Anaxagoras.
Periode filsafat modern di barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.

E. FILSAFAT ZAMAN KONTEMPORER
Filsafat barat kontemporer (abad XX) sangat heterogen. Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah pragmatism, vitalisme, fenomenologi, eksistensialisme, strukturalisme dan postmodernisme.
1) Pragmatisme, pragmatism mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfaat secara praktis. Tokoh-tokoh yang penting adalah William James dan John Dewey.
2) Vitalisme, vitalisme berpandangan bahwa kegiatan organism hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital. Tokoh terpenting vitalisme adalah Henri Bergson.
3) Fenomenologi, fenomenologi berasal dari kata fenomenon yang berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi aliran fenomenologi adalah aliran yang membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl. Seorang fenomenolog lainnya adalah Max Scheler.
4) Eksistensialisme, eksistensialisme adalah aliran filasafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Aliran ini berpandangan bahwa pada manusi eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme adalah Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.

Referensi:

http://www.telukbone.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=3460

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_1.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_4.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_5.pdf

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_6.pdf

http://www.perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/aliran-filsafat-modern.html

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_filsafat/Bab_7.pdf













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar